Perapian

Sekelumit kisahku tertiup halus selama tubuh yang meringkuk ini tertekuk di sudut perapian.
Aroma jati  dan lumut menyanyikan latar kilasan ribuan wajah yang datang dan pergi... dalam ratusan gemerincing banyu yang menggercik di tiap sisi ladang ilalang... dalam belasan tahun yang terlewati.... dalam belasan tahun yang aku kecewakan.... dengan kehendakku... ataupun tidak...

Tubuh ini tubuhku... tubuhku?
Jiwa ini jiwaku... jiwaku?
Hati ini.... hatiku?

Satu-satunya tanya lantang yang entah siapa membisikkannya adalah....
"Apa yang telah kau lakukan selama hidupmu?"

Lelaki itu menghisap cangkir keramik dalam temaram jingga yang terpantul dari sayu lensanya.
Ringkih dalam raganya yang kokoh.
Diam dalam pikirnya yang hingar.
Dinikmatinya selaman rindu lembaran pelepah terbolak-balik berlembar-lembar...
Ia mulai menguning, namun tintanya tak pudar sejentikpun.

Kala... doakan maafku..
Aku... mengadu

Untukmu Yang Sedang Dalam Naungan

Dalam teduh berbayang kelabu kau merindu
Merindu, berkalut saat tumitmu tertuju ke arah mata angin beriak di balik lindu

Tersingkap mega.. dengan cahaya hangat berwarna jingga tertancap tajam melewati sangkar itu, menembusmu

Apa kau merasakan kehangatan itu?

Orang bilang itu hanya rayu, itu hanya palsu
Hanya permainan kata dan tipuan rasa?
Dengan pemanis kala dan penyedap rupa?
Lantas mampukah mereka pampangkan bagaimana yang asli?
Yang bukan hanya ilusi?
Yang Hakiki?
Yang Murni?
Taukah mereka?

Dan aku masih bertanya, "masihkah kau merasakan kehangatan itu?"

Saat pohonmu telah bercabang santun
Merimbun..
Meranum..
Berakar kuat diatas tanah yang pekat
Dia telah matang, dia telah tenang
Bersimpuh tegar menunggumu bersandar
Tertiup sepoi mengalun
Tertutup teduh melantun

Akankah kau keluar dari naungan pohon itu?

Saat kau terduduk... terpeluk...
Saat kau tertidur... tersungkur...
Saat kau tergelak... terisak...
Saat kau terlelap di atas ilalang dalam senyummu, terlindung terik.. tertiup naik..
Dari dalam lubuk hatinya yang terdalam...
Sang mega tenang
Menyungging bulan sabit diantara pipinya di atas kolam dan berkata kepada Si kura-kura,
"Tidakkah kau melihatnya? Bukankah dia mengagumkan?"

Si kura-kura mengangguk, tersenyum, dan tanpa disadari mereka telah terduduk sepanjang hari bersama katak, capung, dan teratai air
Tersilau senja di sisi kolam

Janganlah kau tinggalkan pohonmu..

Pohonmu.. telah tumbuh untukmu
Rekam beratus sajak
Antar beribu jarak
Disana...

Tetaplah dalam naungan.. Jingga

Sari Pati

Untai tak pernah pergi
Hati tak pernah lari
Tak bisa akhiri, tak mampu jalani
Hingga dia menggenggam buih
antara hari dan mimpi
rasa itu memang terasa.. lirih

Tanpa atap, bukan berarti rangkap
Tanpa ikat, tak selalu berarti singkat
Atas atap yang terikat, malam terpejam
menutup diam hingga..
senyum yang tertanam tak lagi terlihat kelam

Hanya sari yang ampuh meniup peluh
Tinggi.. patinya terasa wangi
Di bawah titian sauh
tempatnya biasa terduduk memandang jauh
melewati batas tipis dunia
Dia akan tetap berada di sana, tak akan pernah kubiarkan jatuh...

Mengapa harus berhenti?
Kau tetap bisa menjadi sari
Kau tetap bisa menjadi pati

Tak harus lari, hanya butuh janji
hingga akhirnya kau bisa jalani

Mengapa?
Karena rima tak menuntut harus selalu sama

Apapun yang terlalui
Kau tetap sari
Kau tetap pati
Bawalah dia hingga dalam lelapnya miimpi... dia tak lagi takut akan hari